Tentang Oktober yang Terakhir


Hari ini Jumat. Hari barokah dan berkah. Hari pakai baju batik. Hari kerja yang ditunggu tunggu karena besoknya libur. Dan, hari ini, Jumat, 31 Oktober 2014 merupakan hari terakhir di bulan Oktober.

Pagi tadi, saya bangun pagipagi. Semalam sudah dingatkan sama suami, kalau besok kerja suami ingin samasama berangkat ke kantornya. Iya, hampir sebulan lebih saya ndak pernah diantar suami ke kantor. Sudah lama ndak dibonceng naik motor. Padahal selama saya hamil, hampir 9 bulan itu suami selalu mengantar saya ke kantor. Dan semenjak saya masuk kerja lagi setelah cuti melahirkan itu, saya selalu berangkat kerja naik motor sendiri. Karena setiap pagi saya sebisa mungkin yang handle Qisya anak saya. Ibuk saya yang menjaga Qisya selama saya kerja kalo pagi rutinitasnya adalah masak dan mempersiapkan bekal makan siang saya untuk di kantor. Lalu saya ngapain? iya, saya memandikan Qisya dan menyempatkan untuk ‘nenenin’ Qisya dulu sebelum berangkat.

Hari ini oktober yang terakhir. Pun dengan hari terakhir saya bekerja di kantor. Iya, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti kerja di kantor ini. Kenapa? jawabanya karena Qisya. Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi Ibu yang banyak dirumah. Berat memang, tapi keputusan itu akhirnya yang saya ambil. Bapak dan Ibuk saya melarang awalnya. Melihat anaknya yang sejak lulus kuliah bahkan sebelum lulus pun sudah mencoba kerja menjadi asisten dosen itu, lalu memilih kerja merantau di kota Surabaya mencari kerja dengan jerih payahnya dan kini akhirnya memilih untuk behenti kerja. Hujan di pelupuk mata sudah sering turun di mata saya, tarik ulur iya atau tidak, diskusi dengan suami gimana baiknya, sholat dan minta petunjuk Allah.

Banyak pertimbangan dan omongan, “nanti perempuan kalo ndak kerja itu ndak punya pegangan, ndak bisa belanja belenji sesuka hati, ndak bisa kongkowkongkow, ndak gaul dan yang jelas ndak cantik karena dirumah hanya pakai daster, bau keringat dan bla bla bla bla…” iya dan banyak omongan negativnya ketimbang positivnya. Omangan negativ itu seperti hantu. Menghantui pikiran saya bahkan membuat saya menarik ulur keputusan untuk berhenti kerja. Membuat saya menangis kalo malam, sempat susah tidur. Debat sama suami. Sedih dengan perkataan Bapak Ibuk yang pernahmengatakan “Bapak sudah nyekolahin kamu nak” dan tentu mendengar itu saya langsung menangis. Lalu gimana Qisya, sama siapa? ndak mungkin Ibuk menjaga terus terusan, ndak mungkin juga mama yang menjaga. Saya Ibunya, saya Bundanya. Saya yang harus menjaga. Itu tanggungjawab saya. Iya, saya dan bukan neneknya.

Suami menyerahkan semua pada saya. “Ayah ndak melarang bunda mau kerja atau berhenti kerja. Semua keputusan ditangan bunda. Kalo bunda mau kerja ndak papa, asal dipikirkan juga anak bagaimana, dijaga siapa, itu harus dipersiapkan dengan baik jangan sampai ‘anak keleleran'”. Saya pun mencari saran teman yang dia pun akhirnya memilih berhenti kerja di kantor untuk fokus mengurus anak. Budhe Yuyuk,  salah satu ‘cekelan’ saya waktu saya ‘down’ seperti itu. Alhamdulillah dikuatkan dan disemangatin. “Pasti bisa, awalnya mesti yo susah. Aku yo ngunu kog. Ndak papa, itu proses, nantinya akan mudah dan malah enjoy. Kalo omongan negativ kayak gitu itu wis biasa. Rungokno ae. Kudu siap dengan omongan itu karena pasti iku, pasti bakal ada omongan kayak gitu. Tetep, rungokno ae. Karo dimesemi yo tambah apik. Yakin ae karena rejeki tak melulu soal uang nduk. Anak sehat, suami sholeh rumah tangga baik dan bahagia itu pun rejeki yang tak ternilai. Qisya nanti jadi anak pinter sehat. Yakin, ada rejeki lain yang jauh lebih baik.” nasehat dari budhe Yuyuk. Iya, kalimat yang ndak panjang tapi penuh makna itu pun menguatkan saya.

Akhirnya hari rabu 01 Oktober saya mengajukan permohonan ‘resign’ pada kabag saya. Keputusan sudah saya ambil. Setelah bicara pada kabag saya itu rasanya ‘lego’ dan sudah ndak ada drama nangis nangis kalo malem. Udah bisa tidur enak dan ndak sewot sama suami. Kayak jerawat yang sudah pecah, ‘plong’. hehehe. Saya bangga melihat banyak temanteman saya yang bisa berkarir di kantor, dan rumahtangganya pun sukses. Mereka perempuan hebat. Semuanya punya pilihan masingmasing. Janganlah saling merendahkan. Jadi Ibu yang kerja di kantoran itu lebih baik atau sebaliknya jadi Ibu yang dirumah itu jauh lebih baik. Janganlah seperti itu. Saling menguatkan dan menyemangati. Setiap Ibu pasti tidak mau meninggalkan anaknya dirumah dan diasuh orang lain. Tapi jika pada akhirnya ia tak bisa mengakhiri untuk bekerja di kantor, janganlah itu dinilai merupakan pilihan buruk. Apapun pilihannya pasti ada konsekuensinya.

Dan akhirnya, hari ini tiba. Hari perwujudan dari keputusan saya.

Saya katakan pada hati saya bahwa saya tidak berhenti bekerja. Tapi saya berhenti bekerja di kantor. Kerja itu tidak harus di kantor kan? Dan rejeki tidak melulu ada di pintu kantoran itu. Rejeki dari Allah dan ada di pintu manapun. Dipintu rumah saya pun pasti ada. Saya yakin itu. Allah yang nantinya akan langsung menggaji saya. Qisya sehat dan pinter. Senyuman manis Qisya, tawa kecil Qisya, polah lucu Qisya. Itu gaji saya dari Allah.

Dan dari tulisan mbak azaleav yang berjudul Inspirative Housewife Story, mampu menguatkan saya. Membuat saya lebih semangat untuk berjuang nanti. Tulisan tentang Ibu Septi Peni Wulandani. Bagaimana ia menjadi Ibu rumah tangga yang hebat. Mencetak anak anak hebat. Saya pun ingin seperti beliau. Semoga.

Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. – azaleav

Hari ini saya berangkat samasama suami. Hari terakhir dibonceng suami untuk berangkat kerja. Hari terakhir saya duduk di kursi kerja ini. Hari terakhir saya menulis di komputer ini. Hehehehe.

komputer kantor

meja kerja. komputer kesayangan.

Mari menikmati Jumat barokah dan berkah. Jumat terakhir di oktober.

Mendadak Polwan


Barusan tadi. Iya, beberapa menit yang lalu ada bbm masuk. Dari adek yang hanya ngasih sekilas inpo katanya.

Mba, coba yen mbien aku daftar polwan tenan… lak ketompo…

Saya mesem, ya jelas cuma bisa mesam mesem.  Memang, adek satusatunya saya ini pernah mengutarakan maksud dan tujuannya untuk mencoba peruntungan di dunia kepolwanan. 😀

Saya pribadi ndak melarang, lha apa wewenang saya, saya bukan bapak ibuknya yang menjadi sosok berpengaruh besar untuk masa depannya. Hanya sekelas mba’e yang jadi tempat harapan dukungan ketika bapak ibuk ndak berkenan.

Tapi jujur, saya memang kurang sreg kalo si adek ini ikutan peruntungan di polwan. Kalo ditanya kenapa, saya ya ndak bisa jawab. Cuma bisa kethapkethop bingung mau ngasih alasan apa *ampun nante. Naluri dan firasat saya sebagai mba’e, ya memang dipilihannya yang pertama. Masuk sebagai mahasiswa kehutanan. Ya, disana saya melihat itu dunianya, disana jiwanya. Kenapa? Nah, kalo ini saya bisa jelaskan.

Pertama, saya akui dua jempol. Si adek ini paling handal tangannya dalam hal bercocok tanam *buhahahaha. Tapi iya, memang iya. Tiap tanaman yang dia minta dari tetangga atau temannya lalu ditanam di kebun ala kadarnya rumah, selalu tumbuh dengan subur. Dan tangan dingin seperti itu kan jelas cocok untuk mahasiswa kehutanan bukan? 😀

Kedua. Si adek kan lulusan IPA. Setahu saya ya kehutanan akan berhubungan banyak dengan ilmu IPA. Kalaupun ilmu IPS mungkin hanya ilmu geografi saja yang dia butuhkan. *mba’e yang sok tau.

Ketiga. Si adek ini jago gambar juga. Lha apa hubunganya? Iya, setelah saya melihat mata kuliah kehutanan beserta tugastugasnya. Banyak adegan kudu  gambar menggambar disana. Tentu tangan terampil yang pintar gambar jelas membantu dia dalam memperlancar kuliahnya kan ya. 😀

Keempat. Kemauanya. Ya, kehutanan adalah jurusan yang dia mau dan tanpa adanya pemaksaan. Dengan lantang dia jelaskan ketika memberikan alasan pada saya, bla bla bla. Ya sudah, saya iyakan dan saya hanya bisa mendoakan.

Itu saja alasan yang bisa saya jelaskan. Meski masih ada alasan lainnya. Tapi itu cukup menjadi perwakilan. 😀

Kembali pada sekilas inpo dari adek saya.

Si adek masih merasa anyel hatik, karena tidak adanya dukungan dari orangorang kesayangan. Saya tambah mesam mesem.

Balasan bbm saya,

Kalo bapak ibuk ndak mendukung, mungkin memang itu bukan yang terbaik buat mu menurut bapak ibuk. Gitu loh. Ya ndak papa toh dek. Insyaallah rejekimu nanti jauh lebih bagus dan besar

Dan jelas si adek masih membalas bbm dengan hati anyel dan ngedumel. 😀

Dek, jika memang jalanmu disana tentu saja orang tua pasti beri ijin sekaligus doa. Tapi, jika tidak. Jangan menggerutu. Mungkin saja tempatmu memang bukan disitu. Ada bukit dan gunung yang menanti untuk kau daki, untuk kau tancapkan bendera kemenanganmu. Buktikan pada mereka yang menilaimu dengan sebelah mata. Mbak hanya bisa mendoakan dan yakin. Insyaallah, kelak rejekimu dan karirmu akan cerah dan indah. Yakinnnnnnn ya. Dan bilang pada mereka “arep golek ilmu wae mosok di hukum” kikikikikikikiki….

Salam cup cup ajinomoto dari mba’ mu ini.. :-*

kehutanan

si adek bersama kawan rimbanya 😀